News  

Ela-ela, Tradisi Menjemput Malam Lailatul Qadar di Ternate

Nyala obor di depan rumah warga Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara. Foto: La Ode Alimin

Di sudut horizon di ufuk barat, mentari telah tenggelam, langit tampak kemerah-merahan bercampur warna jingga.

Selama mata memandang ke arah hamparan laut tampak begitu tenang, tak ada angin kencang dan amukan ombak. Seolah alam begitu tenang.

Seperti biasa, ketika menjelang waktu berbuka puasa, saya bergegas membeli takjil di sekitaran Kelurahan Sasa, Ternate Selatan.

Tapi ada yang berbeda dari hari kemarin. Kali ini nyaris semua depan rumah warga terdapat satu dua obor yang menghiasi halaman rumah mereka.

Obor yang berdiri memiliki satu sumbu hingga delapan sumbu. Kalau di bumi Kie Raha menyebutnya tradisi semacam itu sebagai malam Ela-ela.

Tradisi Ela-ela digelar menjelang hari raya Idul Fitri, tepatnya 27 hari Ramadan, sebagai petanda menyambut malam Lailatul Qadar yang diyakini sebagai malam suci dan lebih baik dari seribu bulan.

Baca Juga: 

Pemuda, Mahasiswa, dan Pelajar Moiso Gelar Pawai Obor Sambut Malam Lailatul Qadar

Menyalakan Tradisi Malam Lailatul Qadar di Kesultanan Tidore

Nyaris seluruh masyarakat muslim Maluku Utara sangat akrab dengan tradisi ini. Bila sudah memasuki malam, semua orang bersiap-siap menyalakan obor di depan rumah mereka.

Selepas salat Magrib, saya temui tiga bocah berusia 9-10 tahun: Raflan, Fitri, dan Rafia, di pinggir jalan depan rumah mereka.

Dari raut wajah mereka terlukis kebahagiaan ketika menyambut malam Ela-ela. Dari ketiga bocah itu, hanya Raflan yang menggenggam sebatang obor dari bambu.

Tangan yang mungil, cekatan menyalakan dua sumbu obor yang ia genggam. Lantas, ia sodorkan ke obor yang berdiri di hadapan mereka.

Obor yang berdiri itu dialas dengan dua potongan pohon pisang, kemudian menancapkan dua batang bambu kecil yang tingginya sekitar satu meter lebih.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN UGM Giatkan Pekan Edukasi untuk Siswa SD di Ternate

Di atasnya, ada potongan bambu dengan posisi horizontal berukuran sedang sebagai wadah minyak, pun untuk menancapkan dua sumbu obor.

Meski pun ketiga bocah itu tak tahu jelas apa filosofi dari tradisi Ela-ela, tetapi mereka tetap semangat merayakannya.

“Tong babakar obor bagini, so tahu sudah lebaran su tra lama lagu,” jelas Raflan yang masih menggenggam sepotong obor di tangannya, Senin (17/4).

Di beranda rumah, tampak seorang perempuan berusia 60 tahun tengah duduk di para-para, menyaksikan bocah yang tengah membakar obor. Namanya Ci Nya yang tak lain nenek dari salah satu bocah itu.

Lantas, seorang lelaki berusia 65 tahun yang memiliki jenggot sedada yang sudah memutih, keluar dari dalam rumah. Namanya Salim yang tak lain suami dari Ci Nya.

Ia turut menyaksikan cucunya yang tengah bermain, lantas terlibat dalam obrolan. “Ela-ela begini, so lama sudah, tong masih kacil-kacil jaga barmaeng lagi,” kenangnya.

Tradisi ini sudah sejak lama dilakukan di Malut. Orang-orang muslim di daerah ini, membudayakan tradisi Ela-ela. Hal ini mencari ciri khas umat Islam di Malut yang hanya ditemukan di sini.

Dalam esai Herman Oesman bertajuk: “Tradisi Ela-ela dan Ayat-ayat Langit: Tautan Simbolitas Makna”, menyebutkan bahwa “Tradisi ela-ela merupakan produk pemikiran lokal bertaut dengan nilai ajaran Islam yang mengandung keluhuran metafisis perennial yang hidup di tengah masyarakat Muslim Maluku Utara. Berdampingan, seiring, sejalan. Tradisi ela-ela merupakan hasil perjumpaan yang lalu, melahirkan simbol memaknai lailatul qadar, malam kemuliaan.” (Tandaseru.com, 8/5/2021).

Baca Juga: 

Sambut Malam Lailatul Qadar, Kota Ternate Dibanjiri Pedagang Ela-ela

Melihat Tradisi Ela-ela di Ternate pada Malam Lailatul Qadar

Barangkali hal ini tak lepas dari dominansi Islam di Malut, sehingga tercipta satu tradisi yang diwariskan kepada generasi ke generasi.

Baca Juga:  Sambut Hari Bhakti Adhyaksa, Kejati Malut Gandeng PMI Gelar Donor Darah

Karena sejak Kesultanan Ternate berdiri, tradisi Ela-ela dengan menyalakan obor sudah dilaksanakan oleh masyarakat muslim di daerah ini.

Kendati begitu, di bagian kampung tetangga Kelurahan Sasa seperti Jambula, pun menyalakan obor di halaman rumah warga, tapi tidak semeriah dan seramai Sasa.

Selain Jambula, pun Kelurahan Gambesi dan Fitu yang nyaris tidak menyalakan obor di depan rumah warga. Hanya satu dua obor yang dinyalakan. Yang paling banyak saya temukan adalah di pekuburan Fitu.

Hal ini berbeda dengan Kelurahan Sasa, Obor-obor yang dipajang di halaman rumah biasanya masyarakat bikin sendiri. Ada yang diberikan langsung oleh RT.

Selepas salat tarawih, nyaris semua obor di depan rumah warga dinyalakan. Susilo (41), mengatakan bahwa pengadaan obor di seluruh depan rumah warga adalah bentuk perlombaan.

“Tapi saya tidak tahu lombanya seperti apa,” tuturnya, lalu menumpahkan minyak tanah ke dalam wadah obor itu, karena sedari tadi padam.

Di samping obor pemberian dari RT, terdapat satu buah obor yang agak unik, memiliki tiga cabang dengan wadah kaleng bekas susu beruang. Susilo mengaku membeli di belakang mal, Ternate.

“Harganya berbeda-beda, ada yang Rp 50.000, Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Tapi ini saya beli dengan harga Rp 50.000,” katanya, sembari menunjuk obor bambu yang bercabang tiga itu.

Setelah menyalakan obor,, semua orang akan melakukan pawai pasukan obor. Sekitar ratusan orang ikut nimbrung menyisir jalan dengan menggenggam obor, diiringi dengan salawat: mulai dari kanak-kanak hingga dewasa pun mengikuti pasukan obor ini.

Di barisan terdepan dipandu puluhan sepeda motor, disusul anak-anak dan orang dewasa. Satu mobil pick-up membawa toa sebagai pengeras suara saat melantukan salawat.

Baca Juga:  Manuver Haryadi Ahmad Bidik Rekomendasi Partai di Pilkada Halteng 2024

Bukan hanya di Ternate, di berbagai daerah Malut pun kerap memeriahkan malam Ela-ela. Kata Muhammad Ali Anwar (29), yang akrab disapa Al, di Desa Loid, Bacan Barat Utara, Halmahera Selatan, saat seperti ini pun kerap melakukan Ela-ela.

“Sejak kecil kami sering ikut merayakan malam Ela-ela. Bagi kami, malam Ela-ela memiliki keistimewaan tersendiri. Kami sangat senang bila sudah merayakan malam Ela-ela,” tuturnya.

Namun, ia merasakan ada perbedaan saat malam Ela-ela tahun ini. Karena suasananya sungguh berbeda.

Di kampung bisa merayakan Ela-ela bersama keluarga dan kerabat. Sementara, di Ternate ia tak menemukan suasana seperti itu.

“Dulu saat di kampung, suasana malam Ela-ela ini begitu kental dan punya nuansa tersendiri,” kenangnya.