Sagea dan Masa Depan Ekologi

Dua orang ibu sedang membawa sampan bermuatan kelapa di Sungai yang mengalir dari Gua Bokimaruru. Foto: Faris Bobero/jalamalut

Anggaplah kita sedang lupa tentang perjuagan mama Aleta Baun di Nusa Tenggara Timur yang berjuang selama bertahun-tahun untuk menghentikan aktivitas penambangan batu marmer di tempat keramat Suku Molo. Perusahaan tambang marmer itu beroperasi tanpa konsultasi dengan masyarakat setempat. Perlawanan itu dipicu karena di saat aktivitas penambangan dimulai, ada berbagai macam bencana yang melanda masyarakat sekitar.

Akibat dari perusahaan tersebut adalah penggundulan hutan, tanah longsor dan meracuni sungai yang merupakan tempat untuk mencuci bahan makanan, dipakai minuman, membuat obat, dan juga pewarna alam dalam menenun bagi penduduk sekitar. Sungai telah menjadi mata rantai penghidupan warga setempat.

Pada 1990-an Aleta Baun bersama tiga wanita lain menggalang dukungan dari desa ke desa, berjalan kaki selama enam jam, ini bukan jarak tempuh yang dekat.

Gerakakan protes yang dilakukan oleh mama Aleta telah mendapatkan balasan kekerasan dari para penambang sehingga mama Aleta dengan terpaksa lari ke hutan bersembunyi dari ancaman pembunuhan. Di tengah-tengah intimidasi, Aleta Baun tetap mengkampanyekan perlawanan menolak penambangan batu marmer yang sudah berlangsung sejak 1980-an.

Hingga pada 2016 Aleta Baun berhasil menggalang ratusan penduduk desa, dengan berjumlah 150 orang yang terdiri dari perempuan dengan gerakan menenun di depan pintu masuk tambang dan menduduki bukit Anjaf juga bukit Nausus di kaki gunung selama satu tahun. Sementara, kaum pria membantu dengan mengasuh anak, memasak dan mengirimkan makanan pada kaum wanita yang terus menenun—menghalangi aktivitas penambangan, meski ancaman kekerasan dan intimidasi menghampiri setiap saat.

Atau anggaplah kita tidak tahu menahu soal gerakan memeluk pohon di wilayh perbukitan dan pegunungan India yang menggantungkan hidup pada hutan. Hutan menyediakan bahan makanan, pakan ternak, sumberdaya air dan tanah. keselarasan dengan alam sangatlah penting karena hutan adalah segala-galanya bagi mereka.

Perlawanan pun muncul,  akibat kendali hutan diambil alih oleh pemerintah. Gerakan yang dibangun, mulai dengan pembakaran rumah secara sengaja oleh orang-orang dari Kumaon dan menjadikan hutan sebagai rumah. karena bagi mereka hutan sudah seperti rumah—ibu mereka.  pembukaan hutan itu hanya untuk kepentingan komersial sehingga bisa menghilangkan hak-hak tradisional warga tempatan.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Bahasa Ibu di Kampung Sendiri

Salah satu pelopor gerakan itu adalah Chandi Prasad Bhatt, juga sebagai pekerja sosial yang menganut ajaran Mahatma Gandhi yang membangun kemandirian dan kewirausahaan hingga mendirikan usaha kecil dengan memanfaatkan sumberdaya hutan. Mereka bertekad mempertahankan hak-hak hutan dari korporasi yang akan mengeksploitasi hutan. semangat protes terus dikobarkan.

Dari dua tokoh gerakan penyelamatan lingkungan tersebut, mengingatkan kita kepada seorang perempuan berumur sekitar 70-an. seorang Pejuang lingkungan yang menantang kehadiran pertambangan karena dianggap merusak lingkungan bahkan sumber daya air, pangan, hutan serta merusak ekosistem yang ada di daerahnya. Ia, sampai hari ini masih terus eksis menyuarakan keadilan ekologi di desa Sagea-Kiya. Sehat selalu mama Ama. Semoga jou Allah ta’ala menganugerahi badan yang sehat dan umur yang panjang.

Mama Maryama

Ibu rumah tangga; pejuang lingkungan di desa Sagea-Kiya

Pesan leluhur yang diteruskan oleh mama Ama pada generasi hari ini, dengan petuah “Gae re gele neste rfaftote bo tjaga re tpalihara pnuw re boten enje fafie” Artinya, “leluhur pernah berpesan bahwa kita harus menjaga dan pelihara kampung ini dengan baik-baik”.

Boki Moruru yang menurut cerita, sebagai satu tempat perjumpaan dan bersemayamnya cinta kasih Mon Takawai dan putri Sarimadago. Untuk melindungi tempat bersejarah itu, maka kita harus hidup selaras berdampingan dengan keindahan alam Sagea-Kiya yang telah diwariskan secara turun temurun, mama Ama berdiri menantang perusak lingkungan sejak tahun 2014 dan sampai saat ini, semangat perjuangan belum pernah pudar.

Di dalam aksi unjuk rasa yang melibatkan perempuan dan pelajar, mama Ama sempat meneteskan air mata saat melihat anak-anak sekolah berseragam merah putih berjalan di bawah terik panasnya matahari. “saya tara simore kalau tambang ini masuk, inga tong pe ana-ana punya masa depan.” (saya tidak bangga kalau tambang terus beroperasi, karena mengingat masa depan anak cucu) kata mama Ama sambil mengusap air mata.

Baca Juga:  Rejimentasi Politik Pragmatisme Transaksional

Desa Sagea dan Kiya, masyarakatnya yang hidup berdampingan dengan alam, ini berlangsung selama ber-abad-abad. Danau Yonelo dan Talaga Lagaelol yang merupakan sumber penghasilan, sungai Boki Moruru sebagai sumber air, pemandangan yang estetik, air yang jernih dan hutan yang lebat. Kini dalam bayang-bayang  kehancuran, ulah dari rakusnya pemerintah dengan menjadikan tambang sebagai satu-satunya sumber ekonomi yang entah untuk siapa.

Jika investasi tambang ini masiv, hutan yang lebat jadi gundul, maka kerusakan dan bencana ekologi akan menghampiri kita. Apakah kita tidak pernah tahu? seperti apa pulau Gebe, Moor Nopo di Halmahera Timur yang digenangi lumpur, Desa Kawasi di pulau Obi yang laut dan suber air minum tercemar, bahkan desa Lelilef dan Sawai yang hari ini menjadi bukti nyata rusaknya ekosistem yang makin parah dan juga tempat langganan dengan banjir yang berakibat pada pembukaan lahan secara besar-besaran oleh PT IWIP.

Jangan karena untuk kesenangan sementara, kita biarakan exavator yang menjelma sebagai predator dan datang lalu meneror, menancapkan kuku besinya pada perut bumi yang  menyebabkan makin menipisnya lapisan ozon. Tidak hanya perang nuklir yang mengakibatkan jutaan orang kehilangan nyawa dan tempat tinggl, akan tetapi pertambangan, ketiadaan sumber air, pangan dan mata rantai kehidupan lainnya juga akan berakibat pada jutaan orang kehilangan nyawa dan tempat tinggal pula.

Eric Weiner seorang penulis buku the geography of bills, mengatakan “Ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang”. Dalam buku memandang arti kebahagiaan itu, Eric memandang bahagia tidak harus mewah, cukup dengan melakukan sesuatu yang sederhana tapi memilliki makna dan arti yang besar.

Baca Juga:  Kolaborasi Membangun Daerah

Bahagia tak harus mengorbankan alam, cukup kita hidup selaras dengannya, maka keadilan ekologi akan seimbang. Hal ini telah terjadi pada kehidupan warga Sagea-Kiya sebelumnya dan saat ini masih  dilindungi oleh mereka yang merasakan tentang batinnya ekologi.

Di zaman modern serba teknologi ini, telah mengubah cara pandang kita sesama manusia, cara kita memandang alam hingga lupa bagaimana cara kita menunjukkan kasih sayang. Jika saling berpelukan bukan menunjukkan satu cara yang arif, jika memeluk manusia adalah cara yang berbahaya maka marilah kita memeluk pohon sebagai tanda kecintaan kita terhadap alam.

Dalam perjuangan mama Ama, akan menginspirasikan banyak kalangan perempuan untuk menjadi mama  Ama yang baru sehingga berdiri menantang penguasa dan katakan bahwa Boki Moruru, Talaga Yonelo, Lagaelol, sungai  dan pohon adalah ekonomi warga yang permanen. Hanya dengan cara ini kita bisa mencegah lajunya devorestasi dan hancurnya keragaman hayati.

Mereka yang sedang berjuang melestarikan alam adalah bagian dari kita. Maka mari kita jadikan ini sebagai perjuangan bersama untuk bumi yang lebih lestari. Jika kebersamaan adalah jalan menuju keberhasilan, maka kelak akan  dikenang sebagai gerakan yang menunjukkan kekuatan perempuan dalam konservasi dan melindungi ekologi.

Ada Syair Lala yang seperti ini; Sio rela minyou tailama minyou duka la re balisa” (Jika kita memandang lautan yang teduh di atas keteduhan itu menyimpan berita duka maka kita pun turut berduka).

Siksa re melarat ene tharap iso pa masolo itero” (Sengsara dan menderita bukan orang lain yang merasakan tapi kita).

Itero ta bot falgali tharap kngat lima nalik pa” (Torang sudah yang mo baku bantu jangan harap orang lain).

#Jaga kampung #Rawat budaya.

Artikel ini, untuk mengikuti Lomba Menulis Esai dan Opini untuk Mahasiswa dan Umum oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakan Maluku Utara pada Festival Literasi.

Penulis: Sandi Alim/ Mahasiswa Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara