Puasa dan Usaha: Lika-liku Penjual Kelapa Muda di Jalanan Ternate

Sejumlah pembeli kelapa muda tampak mampir di lapar Faldi. Foto: Eko Pujianto/cermat

Mata Rifaldi Drakel penuh harap memandangi tumpukan kelapa muda di hadapannya, sore itu di Kawasan Lampu Merah Prima, Kota Ternate, Senin, 23 Februari 2026 lalu.

Di bawah tenda berukuran sekitar 3×4 yang dibentangkan itulah, Rifaldi menjajakan kelapa muda. Pemandangan tepi jalan di Kota Ternate memang lazim dipenuhi penjual kelapa muda dan takjil.

Saat puasa, pemandangan ini lazim dijumpai. Faldi mengaku, dirinya mulai rutin berjualan sejak beberapa tahun terkahir.

Baca Juga:  Teluk Weda, Negeri Asri yang Kini Tergerus Tambang

Tumpukan kelapa muda di hadapannya siap dibelah jika ada yang mampir, sebagiannya sudah menyisahkan serabut yang telah ia bersihkan dan berserakan di lantai.

Tangan Rifaldi cukup lincah. Satu kelapa digenggam kuat dan parang diayunkan terukur. Sekali, dua kali, tiga kali sabetan pada batok kelapa tebal itu terbelah rapi. Dalam hitungan detik, kelapa muda sudah siap disodorkan kepada pembeli.

“Sepuluh ribu,” ucapnya ringan, diselipi senyum yang tak pernah lelah.

Baca Juga:  Geliat Eksportir Lokal Mendorong Rempah Maluku Utara ke Pasar Global

Faldi bukan pendatang baru dalam hal membadrol kelapa muda, terutama saat Ramadan. Lelaki asal Sulamadaha itu sejak kecil mulai mengikuti ayahnya berjualan.

Dari trotoar ke trotoar hingga satu sudut kota ke sudut lainnya, dirinya tumbuh bersama tumpukan kelapa, suara pembeli yang menawar, dan aroma air kelapa yang segar di tengah panasnya siang.

Faldi membelah kelapa muda jualannya dengan lincah. Foto: Eko Pujianto/cermat

Kini, setelah ayahnya tak lagi aktif berjualan, dia pun mengambil alih profesi tersebut. Bukan sekadar meneruskan usaha, tapi menjaga tradisi kecil keluarga yang sudah berjalan lebih dari satu dekade.

Baca Juga:  Melihat Ternate dalam Sketsa Komunitas Sketchda

Sejak 2013, ia rutin membuka lapak setiap bulan puasa. Pernah berpindah-pindah tempat, dari depan RRI, ke arah darat, lalu ke sisi jalan lainnya. Namun tiga tahun terakhir, ia menetap di titik yang sama. Di bawah terpal biru itu.

Baginya, Ramadan bukan hanya soal ibadah, tapi juga tentang bertahan. Harga satu buah kelapa muda ia patok Rp10 ribu. Keuntungan? Ia tersenyum tipis ketika ditanya soal itu.

“Tipis,” katanya jujur. “Kadang cuma cukup biaya oto.” kata dia saat disambangi jurnalis cermat.

Baca Juga:  Selekta dan Jejak Literasi Masa Lampau di Ternate

Keuntungan Tak Menentu

Untuk satu kali panjat, ia harus membayar jasa pemanjat Rp2.500 per buah. Sekali naik bisa seratus buah. Jika dua kali, berarti dua ratus buah. Belum lagi biaya angkut. Jika menggunakan mobil, ongkosnya dihitung per buah. Kalau pakai motor Kaisar miliknya, bensin tiga liter pulang-pergi sudah pasti habis.

Modal berputar untung tak pasti, apalagi di tanggal-tanggal tua. Pembeli berkurang. Beberapa hari terakhir, ia bahkan masih menyimpan sisa empat puluh buah untuk dijual keesokan harinya.

“Orang sudah kurang beli,” ujarnya pelan. Namun tak ada keluh panjang. Ia tetap berdiri, tetap menyapa.

Baca Juga:  Ketika Hunian Burung Indah Halmahera Digempur Tambang

Aia, sapaan akrabnya, memang dikenal ramah. Ia akrab dengan pelanggan tetapnya. Candaan kecil kerap terlontar, membuat pembeli tersenyum sebelum akhirnya membawa pulang kelapa pilihan. Bahkan mereka yang hanya melihat-lihat pun tetap ia sapa.

Tak ada kata malu baginya berjualan di pinggir jalan yang ramai. Di tengah lalu lintas dan debu kota, ia berdiri dengan kepala tegak. Senyumnya tak berubah. Baginya, kerja adalah kehormatan.

“Kalau mampu naik sendiri, torang naik. Kalau tidak, sewa orang,” tuturnya menggambarkan kerasnya proses sebelum kelapa-kelapa itu tersusun rapi di hadapannya.

Baca Juga:  Bakir, Orang Muda Penggerak Literasi di Tanah Were

Sore menjelang magrib, aktivitasnya makin cepat. Parang kembali berayun. Serabut beterbangan. Air kelapa mengalir jernih di sela potongan batok.

Ia mulai berkemas tepat saat azan magrib berkumandang. Ramadan hari itu selesai, esok ia kembali lagi.

Di balik lapak sederhana itu, Aid bukan hanya penjual kelapa muda. Ia juga petani, dan ketua kelompok tani, bahkan aktif dalam kepanitiaan sepak bola. Hidupnya tak berhenti di satu peran. Dan setiap Ramadan, ia selalu kembali ke bawah terpal biru itu.

Baca Juga:  Om Taken dan Sunyi Hol Sulamadaha: Keteguhan Hidup di Tepi Pantai

Di sanalah ia menjaga manisnya kelapa muda, sekaligus menjaga warisan kecil dari ayahnya. Dan di tengah riuh kota yang terus bergerak, Aid tetap berdiri dengan parang di tangan dan senyum yang tak pernah surut.

Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat